Saturday, June 4, 2011

Pemberian nama yang buruk pada makanan


Jika ada yang menawari kita makanan seperti “Baset” (bakso setan), Nasi goreng “Iblis”, sambel goreng “Jahanam” . apa yang ada dipikiran kita? Makanan serba aneh dari dunia antah berantah? Tentu tidak, karena sebenarnya kita sudah tahu sama tahu bahwa makanan tersebut hanya untuk menyatakan ke-“extreme”-annya . Seperti Bakso Setan, yang sebenarnya hanya bakso biasa yang berukuran “gambreng” sampai-sampai mangkuk bakso pun terisi penuh. Kemudian nasi goreng “iblis”, kripik “setan”, sambel “jahanam” hanya sebagai pengganti kata “extra, extra pedas”.
Lalu kenapa para penjual makanan lebih memilih nama – nama makanan tersebut? Itu semua demi “penglaris”. Tapi, penglaris disini bukan dalam artian hasil instruksi dukun tertentu, tapi lebih strategi penjualan. Tentunya nama – nama aneh dan “extreme” akan lebih membuat konsumen ‘”penasaran” dengan makanan tersebut. Bisa dibayangkan kalau nama makanan tersebut hanya “Bakso super besar”, “ nasi goreng extra pedas”, dan nama nama makanan yang normal lainnya. Tentu itu tidak akan menarik minat para penikmat kuliner. Ini juga lebih diakibatkan karena masyarakat kita masih lebih cenderung sebagai konsumen kuliner dengan cita rasa di telinga, bukan cita rasa di lidah. (maaf jika terminologinya masih salah).
Sebelumnya, kita harus  pahami bahwa tujuan kita makan, selain untuk memenuhi rasa lapar kita, juga sebagai sarana pencari berkah. Bukankah kita diajarkan untuk berdoa agar mendapatkan berkah dalam setiap makanan yang kita makan?
Masalah kemudian muncul, ketika kita mengaitkan dengan kebaikan (keberkahan) dari makanan dengan nama – nama berbau neraka tersebut. Bukankah nama adalah doa? Ketika kita memberi nama sesuatu pun selalu diikuti dengan harapan – harapan yang baik? Ketika kita memberi nama seorang bayi, kita memberikan nama yang baik, agar si anak nantinya menjadi seseorang yang sesuai dengan harapan dalam nama yang diberikan. Ketika kita memberikan nama pada sebuah gedung, bangunan, tempat ibadah, pernahkah kita menggunakan nama-nama menyeramkan? Seperti “gedung neraka”, “gudang setan”, RS “balai kematian”? tentu tidak! Tentunya kita akan memberikan nama – nama indah untuk setiap bangunan dengan harapan bangunan tersebut bisa menjadi tempat yang penuh kebaikan.
Nah, begitupun dengan nama – nama makanan. Makanan yang diberi nama dengan hal hal negatif, sengaja ataupun tidak, adalah sebagai bentuk harapan dan doa. Harapan dan doa bagi penjual, pembeli dan penkonsumsinya. Tentunya kita bisa mengerti apa harapan dari kata – kata “Setan”, “Iblis”, “jahanam” dan nama – nama menyeramkan lainnya pada makanan. Walaupun perlu ditekankan, bahwa si penjual tak mungkin berniat untuk mendoakan dan berpengharapan buruk pada pembelinya, tapi suka atau tidak, makanan tersebut telah menjadi makanan yang penuh doa dan harapan buruk. Jika telah demikian, kebaikan dan keberkahan apa yang kita dapat, selain hanya penghapus rasa lapar. Atau mungkin, malah keburukan yang kita dapat? Oleh karena itu, alangkah bijak jika dalam menyajikan dan menyantap makananpun harus mempertimbangkan etika – etika keberkahan.
Posting ini tidak bermaksud, menghilangkan rezeki para penjual masakan dengan nama – nama menyeramkan. Dan postingan ini tidak bertendensi untuk melabel halal maupun haram bagi makanan – makanan tersebut. Toh belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan dampak negatif maupun positif dari makanan tersebut. Namun, alangkah baiknya jika tulisan diatas menjadi bahan pertimbangan dalam menjual, membeli maupun mengkonsumsi makanan tertentu.

No comments:

Post a Comment