Hidup itu tentang perjuangan dan Cinta. Tak pernah ku dengar kata - kata itu. Tapi ku tahu bahwa ibu ku berusaha menanamkan hal itu padaku semenjak aku kecil, walau ia tak pernah mengatakan secara terang - terangan, mungkin ia memang bukan tipe wanita yang mudah mengungkapkan apapun secara verbal.
Aku hidup tanpa ayah sejak umurku 3 Tahun, ketika seorang supir bus yang tak punya tanggung jawab dengan seenaknya mengambil jalur berlawanan arah dan menabrak mobil ayahku. Setelah 3 hari di rumah sakit, pada tgl 24 Desember 1981 beliau wafat, meninggalkan ibuku, aku dan kedua adikku yang berumur 1,5 tahun dan 6 bulan. ( Takkan pernah kumaafkan supir bus itu, andai saja ku bertemu dia maka nyawa di balas nyawa pun akan kuterapkan padanya )
Sejak saat itu ibuku dipaksa menjadi seorang single parent.
Hidup itu perjuangan. Ku pelajari itu dari ibuku. Menghidupi 3 orang anak seorang diri ( ya, walaupun takkan kulupakan jasa kerabatku, yang telah membantu ), setiap harinya ia mencari penghidupan buat kami. Mulai dari jual sayur matang di rumahku, hingga menjadi tukang kredit. dari mengkreditkan baju hingga sepatu. Walau tak jarang ibuku mendapati para kreditur sableng kabur dengan hutang yg berjibun, ia tak pernah jera. karena ia tahu, jika sejenak saja ia berhenti berusaha maka kami akan kelaparan berhari hari.
Hidup itu Cinta, ku pelajari itu dari ibuku. Ketika ku menderita penyakit kuning ( liver ) diumur 6 tahun dia rela berjuang lebih keras agar aku bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Ketika ku menderita typus di umur 12 tahun, dan aku memaksa untuk tetap berangkat ke sekolah, ibuku mengantar dan menjemputku. Di jam istirahat ibuku kembali datang ke sekolah untuk mengantarkan beberapa potong biskuit.
Hidup itu perjuangan. Ketika kami beranjak dewasa dan mampu menghidupi diri kami sendiri,ibuku tak mau berhenti mencari penghasilan, bahkan saat inipun ia tetap berusaha. Ketika ku tanya kenapa? ia hanya berkata, " selama mama hidup, mama akan terus berusaha"
Hidup itu cinta. Ketika adikku yang telah bersuami, namun tak memiliki penghasilan, ibuku malah kembali menafkahi mereka. Hidup itu cinta, kulihat bagaimana ibuku mengajari semua anak dan menantu perempuannya bagaimana merawat anak2 mereka. memandikannya, menidurkannya, bahkan membersihkan kotoran mereka. Kulihat bagaimana ibuku menangis ketika salah satu cucunya sakit. Kulihat ibuku menangis, ketika ku terbaring di rumah sakit, dengan luka dan patah tulangku, karena ia takut cucuku mengalami hal yang sama dengan diriku, ditinggal ayahnya ketika masih kecil.
Hidup itu perjuangan dan cinta.....tak pernah ku tahu bagaimana caranya menyampaikannya kepadaku, tapi itu yang kudapat darinya. dan itu pula yang akan kutanamkan pada anak anak ku.
( ma...ku tak pernah sanggup mengatakan bahwa ku bangga denganmu, namun dengan air mata dan doa ini, ku harap mampu menyentuhmu...jika ku bisa menukar kehidupan, maka takkan ku tukar jalan hidupku dengan cerita lain, karena kau telah mengajarkanku banyak dengan jalan cerita ini. Ma....aku menyayangimu dan ku yakin kau tahu itu...Love you, mom )
Bogor, 13 Juli 2009
Aku hidup tanpa ayah sejak umurku 3 Tahun, ketika seorang supir bus yang tak punya tanggung jawab dengan seenaknya mengambil jalur berlawanan arah dan menabrak mobil ayahku. Setelah 3 hari di rumah sakit, pada tgl 24 Desember 1981 beliau wafat, meninggalkan ibuku, aku dan kedua adikku yang berumur 1,5 tahun dan 6 bulan. ( Takkan pernah kumaafkan supir bus itu, andai saja ku bertemu dia maka nyawa di balas nyawa pun akan kuterapkan padanya )
Sejak saat itu ibuku dipaksa menjadi seorang single parent.
Hidup itu perjuangan. Ku pelajari itu dari ibuku. Menghidupi 3 orang anak seorang diri ( ya, walaupun takkan kulupakan jasa kerabatku, yang telah membantu ), setiap harinya ia mencari penghidupan buat kami. Mulai dari jual sayur matang di rumahku, hingga menjadi tukang kredit. dari mengkreditkan baju hingga sepatu. Walau tak jarang ibuku mendapati para kreditur sableng kabur dengan hutang yg berjibun, ia tak pernah jera. karena ia tahu, jika sejenak saja ia berhenti berusaha maka kami akan kelaparan berhari hari.
Hidup itu Cinta, ku pelajari itu dari ibuku. Ketika ku menderita penyakit kuning ( liver ) diumur 6 tahun dia rela berjuang lebih keras agar aku bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Ketika ku menderita typus di umur 12 tahun, dan aku memaksa untuk tetap berangkat ke sekolah, ibuku mengantar dan menjemputku. Di jam istirahat ibuku kembali datang ke sekolah untuk mengantarkan beberapa potong biskuit.
Hidup itu perjuangan. Ketika kami beranjak dewasa dan mampu menghidupi diri kami sendiri,ibuku tak mau berhenti mencari penghasilan, bahkan saat inipun ia tetap berusaha. Ketika ku tanya kenapa? ia hanya berkata, " selama mama hidup, mama akan terus berusaha"
Hidup itu cinta. Ketika adikku yang telah bersuami, namun tak memiliki penghasilan, ibuku malah kembali menafkahi mereka. Hidup itu cinta, kulihat bagaimana ibuku mengajari semua anak dan menantu perempuannya bagaimana merawat anak2 mereka. memandikannya, menidurkannya, bahkan membersihkan kotoran mereka. Kulihat bagaimana ibuku menangis ketika salah satu cucunya sakit. Kulihat ibuku menangis, ketika ku terbaring di rumah sakit, dengan luka dan patah tulangku, karena ia takut cucuku mengalami hal yang sama dengan diriku, ditinggal ayahnya ketika masih kecil.
Hidup itu perjuangan dan cinta.....tak pernah ku tahu bagaimana caranya menyampaikannya kepadaku, tapi itu yang kudapat darinya. dan itu pula yang akan kutanamkan pada anak anak ku.
( ma...ku tak pernah sanggup mengatakan bahwa ku bangga denganmu, namun dengan air mata dan doa ini, ku harap mampu menyentuhmu...jika ku bisa menukar kehidupan, maka takkan ku tukar jalan hidupku dengan cerita lain, karena kau telah mengajarkanku banyak dengan jalan cerita ini. Ma....aku menyayangimu dan ku yakin kau tahu itu...Love you, mom )
Bogor, 13 Juli 2009
No comments:
Post a Comment